Ed Husain yang bernama lengkap Mohammed Mahbub Hussain ingat betul apa yang pernah dikatakan oleh John Maynard Keynes, seorang ekonom berpengaruh asal Inggris, “Ketika fakta-fakta berubah, pikiranku pun berubah.” Perjalanan hidup Husain sendiri persis membuktikan ungkapan tersebut. Husain, menuliskan semua perjalanan hidupnya itu pada sebuah buku yang diberi judul The Islamist, yang dialih-bahasakan menjadi Matinya Semangat Jihad: Catatan Perjalanan Seorang Islamis.
Husain kecil yang terlahir di daerah Limehouse, London adalah seorang Muslim berketurunan India-Bangladesh. Semasa kecil hingga usia 15-an, Husain mendapat pendidikan agama Islam dari ayah dan kakeknya yang lebih bercorak spiritual. Islam yang lebih menekankan agama sebagai keyakinan personal dan upaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Kakeknya dikenal sebagai guru besar, ulama karismatik, yang mengharamkan Islam menjadi alat politik.
Pada masa kanak-kanaknya itu, Husain selalu menemukan kelembutan dan kesejukan di wajah dan sikap yang keluar dari kakek dan komunitasnya. Tak tampak sedikitpun wajah Islam yang beringas, yang senantiasa mengobarkan “jihad” terhadap agama dan keyakinan lain yang berseberangan. Di sinilah, dengan sedikit menyimpulkan, Islam sebagai rahmatan li al ‘alamin benar-benar bisa ditemukan. Pada sisi lain, kehangatan keluarga pun selalu mengiringi perjalanan hidup kanak-kanak Husain. Sesuatu yang kelak sirna ketika ia memasuki dunia Islamis, dunia aktivis Islam yang penuh dengan kecurigaan terhadap non-Islam.
Ketika menginjak bangku sekolah menengah, Husain yang di kelas dikenal penyendiri, tidak pandai bergaul, ternyata memiliki kenalan para aktivis Islam yang lebih mengkampanyekan Islam sebagai pergerakan politik dan begitu bergairah untuk menguasai dunia lewat khilafah. Bagi kelompok ini, khilafah adalah keniscayaan. Islam, dengan khilafah-nya, adalah solusi bagi kekacauan di Bosnia dan Palestina, solusi untuk segala silang-sengkarut yang ada di dunia.
Semangat muda Husain yang menggelora, ditambah dengan pembelaan terhadap Islam yang kerap teraniaya di berbagai penjuru dunia, membawanya untuk terlibat secara aktif pada pergerakan Islam. Husain kini percaya bahwa Islam tidak boleh hanya sekadar ibadah dan pendekatan diri pada yang kuasa. Lebih dari itu, Islam adalah advokasi dan pembelaan terhadap penindasan kuffar (orang-orang Kafir). Untuk kepentingan inilah, Husain kemudian bergabung ke Young Muslim Organization (YMO), bahkan sempat menjadi pemimpin tertinggi pada organisasi tersebut, kemudian Hizbuttahrir (HT).
Dengan segala perbedaannya, YMO dan HT Inggris adalah organisasi Islam di Inggris yang begitu kental menyuarakan Islam politik, memandang salah Islam spiritual, sufisme, dan bernafsu besar untuk mendirikan negara Islam, sebuah istilah yang menurut kakek Husain tidak pernah dikeluarkan oleh Nabi Muhammad. Pada masa inilah Husain melahap habis buku-buku karya Sayd Qutb dan al-Nabhani. Aktivitas Husain adalah menggerakkan massa, menantang nilai-nilai Barat, mendukung saudara-saudara Muslim di negara-negara Arab, menuntut khilafah, dan membangun kontak dengan militer.
Semua kegiatan Islamis itu seketika dijauhkan oleh Husain ketika ia, dengan mata kepala sendiri, menjumpai beberapa hal yang menurutnya tidak bisa dipahami. Fakta-fakta itu misalnya, begitu mudahnya kaum Islamis membunuh kuffar, yang dianggap tak lebih dari binatang, banyaknya anggota HT yang tidak mau membayar pajak dengan alasan Inggris adalah negara kafir, dan lain-lain.
Dari keganjilan-keganjilan yang kerap ia jumpai, perjalanan panjangnya bersama kelompok Islamis kemudian membuahkan sebuah refleksi bahwa selama ini ia telah hanya menyematkan Islam di lengan baju, menyalahgunakannya untuk kepentingan politik, namun pada saat yang sama telah menjauhkannya dari inti ajaran Islam: kepasrahan spiritual terhadap ketenangan. Dengan ini ia ingin kembali mengislamkan dirinya, yang oleh sebagian lain dianggap telah memperjuangkan Islam.
Sebuah buku yang sangat patut dibaca di tengah merebaknya intoleransi antar-umat beragama di Indonesia. Oleh buku ini, pembaca diajak memikirkan kembali model-model pembelaan terhadap Islam dan bagaimana membuat dunia diliputi oleh rasa saling menghormati, mencintai dan penuh dengan ketenangan. Pada titik itulah, Husain telah memberikan sebuah pilihan yang menyejukkan.